Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

17 Jun 2024

Dua Ibadah Istimewa di Idul Adha (Konsep)

Dua Ibadah Istimewa di Idul Adha (Konsep)


ASALAMUALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh,
(...muqoddimah...)

Jamaah Salat Idul Adha yang dirahmati Allah Swt,
Marilah kita memanjatkan puji dan rasa syukur kita kehadirat Allah Swt atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita. Pagi ini kita diberi kelapangan untuk hadir di masjid, rumah Allah ini. Kemudian mari pula berdoa salawat dan salam kepada junjungan alam, Rasulullah, Muhammad Saw yang kita harapkan syafaatnya kelak di yaumil akhir.

Mengawali khutbah, khatib mengingatkan kita semua termasuk khatib sendiri, marilah selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Hanya dengan keimanan dan bertakwa kepada-Nya, jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan terbuka, amin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Di bulan Zulhijjah, ini umat Islam di seluruh dunia termasuk kita di sini, di Wonosari, dianjurkan untuk menjalankan dua amalan ibadah, selain ibadah wajib yang kita lakukan setiap harinya. Itulah Ibadah Haji dan Ibadah Kurban selain berpuasa.

Tentang ibadah haji; pagi, 10 Zulhijjah ini, umat Islam yang berkemampu sedang berduyun-duyun dari Muzdalifah menuju Mina untuk melempar Jumrah Aqobah dan tahallul awal, setelah mulai kemarin siang tanggal 9 Zulhijjah melaksanakan ibadah wukuf di Arofah. Kumandang talbiyah, labbaika allahumma labbaik, labaika.... memenuhi kawasan mas'aril haram.

Secara hukum, ibadah haji merupakan hal yang wajib bagi yang mampu sesuai sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur'an Surah Ali Imron ayat 97 yang berbunyi, 


Artinya, Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu.

Jamaah Salat Id Rahimakumullah,
Anjuran ibadah yang kedua yakni ibadah kurban. Ibadah ini hukumnya adalah sunnah 'ain bagi individu dan sunnah kifayah bagi anggota keluarga. Hal ini memiliki kaitan dengan ibadah haji yang bersumber dari ajaran Nabi Ibrahim AS.

Pada hari ini, lebih 3000 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim As menjalankan manasik keagamaan yang mengandung nilai-nilai ke-Ilahi-an, ketauhidan, kesabaran dan pengorbanan manusia kepada Tuhannya. Pada saat itu Nabi Ibrahim As diuji Allah dengan ujian yang sangat luar biasa beratnya. Sebagaimana sudah kita ketahui, Nabi Ibrahim  melalui mimpinya diperintah Allah Swt untuk menyembelih (mengurbankan) putra tercintanya, Ismail As. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran surat As Shofat : 100-111

Yang artinya: "Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sungguh dia termasuk hamba Kami yang beriman."

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Selain itu, yang lebih penting adalah bagaimana memetik pelajaran dari perintah Allah tersebut dalam kehidupan saat ini. Ibadah Haji merupakan ibadah mahdlah dan bersifat fisik. Apa pelajarannya?Pelajaran yang bisa diambil dari ibadah ini adalah bahwa saat kita berkumpul dengan jutaan orang di tanah yang luas, kita merasa betapa kecilnya kita. Dalam kondisi seperti itu, tidak pantas bagi kita untuk sombong. Kita membutuhkan orang lain agar bisa membantu kita, dan agar orang lain tidak menyakiti kita.

Tolong menolong dan saling pengertian dibutuhkan dalam upaya kita beribadah kepada Allah. Karena kita tidk bisa beribadah dengan baik,tanpa ada sikap tolong menolong.

Sedangkan secara spiritual apa yang bisa kita rasakan, alami dan refleksikan di tanah suci, saat kita betul-betul merasa dekat kepada Allah, hendaknyalah bisa berpengaruh kepada sikap dan perilaku kita terutama dalam kehidupan bermasyarakat saat kita kembali ke kampung halaman, daerah kita. Dengan begitu, ibadah haji akan memompa kita untuk lebih giat lagi dalam berjuang demi tegaknya kesejahteraan dan keadilan di tengah-tengah masyarakat dan bangsa, termasuk di kampung kita, Wonosari atau Karimun ini .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar wa LillahiIlhamdu

Tentang pelajaran yang mesti kita ambil dari ibadah kurban adalah bahwa dalam kehidupan ini kita tidak semata-mata berpatok ke material, tapi lebih dari itu, itulah spiritual. Dalam kitab-kitab Fiqih disebutkan bahwa daging hewan kurban harus disedakahkan dan tidak boleh dijualbelikan. Karena itu, dalam berkurban kita diajarkan bahwa, dalam hidup ini semuanya tidak bisa sekadar material atau harta, tidak sekadar dihitung dengan uang saja. Ada nilai spiritual yang menjadi pertimbangan dan ukuran.

Spiritual, yang berasal dari kata spirit yang berarti semangat, artinya ada semangat untuk beribadah, semangat untuk berkurban, berjuang untuk kebenaran, melakukan sesuatu kebaikan, dan lain-lain. Kita melakukan pekerjaan tidak sekadar mencari harta benda. Saat bekerja seseorang tidak semata-mata mengejar uang, tapi juga berkah, pahala dan kebersamaan untuk saling menolong. Itulah nilai-nilai spiritual dalam beragama, khususnya berkaitan dengan Idul Adha yang kita rayakan, lebih khusus dalam ibadah kurban itu sendiri..

Jamaah salat Id rahimakumullah,
Demikian khutbah yang sempat disampaikan, semoga ibadah yang sedang dijalankan oleh para jamaah haji di Tanah Suci bisa menjadi haji yang mabrur dan ibadah kurban yang akan kita lakukan sebentar lagi dihitung Allah sebagai amal yang bisa membawa kita menjadi manusia yang tidak hanya sekadar bersikap materialis, tetapi juga memiliki jiwa spiritualis yang tinggi. 
*Dari berbagai sumber
*Dibawakan di Al-Ubudiyah, 1445/ 2024

22 Mei 2024

Dimulainya Lomba MTQH Provinsi Kepri

Dimulainya Lomba MTQH Provinsi Kepri


SETELAH dibuka secara resmi oleh Gubernur Kepri, H. Ansar Ahmad, SE MM,  Selasa (21/05/2024) malam maka pagi ini MTQH ke-10 Provinsi Kepri 2024 memulai berbagai cabang lomba sesuai cabang dan golongan serta lokasi lombanya. Ada cabang tilawah (anak-anak, remaja, dewasa dan canet), ada cabang tartil, tahfizh, fahmil quran dan beberapa cabang lainnya.

Setiap cabang berlangsung di venew (lokasi lomba) masing-masing. Di astaka utama, misalnya berlangsung cabang tilawah dan murottal mujawwad, cabang tahfizh golongan 1-5 juz di Masjid Sulthon sementara untuk golongan 10, 20 dan 30 juz di lokasi lainnya pula. Setiap cabang atau golongan juga dengan Majelis Hakim berbeda-beda. Saya sendiri bersama 11 orang lainnya kebetulan berada di cabang tahfizh golongan 1-5 juz tilawah. 

"Sungguh menyenangkan bertugas di masjid yang bernuansa Masjid Nabawi ini." Begitu komentar teman saya sesama Dewan Hakim di masjid kebanggaan masyarakat Batam ini. Saya mengaminkan pernyataan sahabat saya itu. Masjidnya sangat besar.

Sebanyak tujuh orang hafizh-hafizhoh sudah tampil di hari pertama ini. Lombanya berlangsung dari pagi hingga siang hari. Menjelang zuhur. Sementara bakda zuhur dilaksanakan cabang tahfizh 20-30 juz dengan Majelis Hakim yang berbeda. Majelis Hakim 1-5 yang diketuai oleh Ustaz Mansur, SQ dapat kembali ke hotel jika tidak ingin mendengar dan menyaksikan tampilan golongan 20-30 juz.

Begitulah info lomba pada MTQH ke-10 Provinsi Kepri di Batam pada hari pertama ini. Dan hari inilah hari pertama bermulanya aneka lomba di ajang MTQH ke-10 Provinsi Kepri tahun 2024. Besok akan dilanjutkan yang belum tampil hari ***

5 Mei 2024

Prof Abdul Somad: Jangan Mati Sebelum Membangun Masjid

Prof Abdul Somad: Jangan Mati Sebelum Membangun Masjid


MASJID Hijir Ismail di Kompleks Islamic Centre Tanjungbatu, Kundur Jumat (03/05/2024) subuh, itu terasa sempit. Masjid terbesar di Pulau Kundur dan masjid ketiga dibangun oleh Pemda Kabupaten Karimun sekaligus dikelola oleh Pemda Karimun pagi itu betul-betul penuh oleh jamaah subuh. Dari berbagai penjuru Tanjungbatu dan sekitarnya hadir di pagi hari mulia itu. 

Masjid Hijir Ismail adalah salah satu dari tiga masjid Pemda. Dibangun oleh Pemda dengan dana APBD dan dikelola juga oleh Pemda dengan menunjuk imam dan pengurusnya. Imamnya adalah hafiz yang secara bulan dibantu honornya. Dua Masjid Pemda lainnya adalah Masjid Agung Kabupaten Karimun (di Poros Kecamatan Meral) dan Masjid Baiturrahman di Kecamatan Karimun (keduanya ada di Pulau Karimun).

Sekadar ingatan, kalau Masjid Agung dibangun di era Muhammad Sani menjadi Bupati, Masjid Baiturrahman dibangun di era Nurdin Bsirun menjadi bupati sementara Masjid Hijir Ismail, Kundur dibangun di saat Uunur Rafiq menjadi bupati. Masyarakat Kabupaten Karimun beruntung memiliki Pemerintahan yang menjadikan masjid sebagai salah satu perioritas pembangunan selain pembangunan  infrastruktur lainnya.

Kehadiran UAS (Ustaz Abdul Somad) selama dua hari di Kabupaten Karimun membuat masyarakat berkesempatan mendengar langsung ceramah UAS. Selama ini masyarakat banyak menyimak tausiahnya melalui You Tobe atau apliaksi TikTok saja. Kini dia mengisi di beberapa tempat seperti di Kecamatan Kundur Barat, Kamis malam. UAS mengisi tausiah pada acara halal bihalal yang dilaksanakan Pemda Kabupaten Karimun di Kuba.

Subuh besoknya (Sabtu) itulah UAS mengisi tausiah subuh di Masjid Hijir Ismail. Karena itulah maka jamaah subuh itu sungguh membludak. Terasa kecil masjid ini pada pagi ini, kata salah seorang jamaah subuh kepada saya. Sesungguhnya bukan sempit tapi jumlah jamaah yang begitu ramai.

Isi tausiah UAS pagi ini cukuplah banyak bervariasi. Dia menjelaskan beberapa tokoh yang membangun masjid. Untuk orang membangun masjid? Adalah untuk mendapatkan perlindungan kelak di hari akhirat. Untuk itu UAS memberi motivasi kepada jamaah untuk bergairah membangun masjid. "Jangan mati sebelum membangun masjid," katanya mengiktibarkan pentingnya umat Islam membangun masjid. 

"Sekurang-kurangnya ikut membangun atau melanjutkan pembangunan masjid yang sudah ada," pintanya kepada hadirin. Adalah penting bagi umat agar bersemangat membangun masjid sekaligus bersemangat beribadah di masjid. Demikian UAS menutup tausiahnya.***

13 Apr 2024

Materi Khutbah Idul Fitri 1445

Materi Khutbah Idul Fitri 1445


SEMBARI mengagungkan asma Allah, marilah kita bersyukur atas rahmat dan nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Alhamdulillah, pagi ini kita diizinkan hadir bersama untuk menyemarakkan syiar Dinullah, melaksanakan salat Idul Fitri, 1445 H bersamaan 2024 M di Masjid Baitussalam ini. Kiranya segala ikhtiar, tenaga, harta dan masa yang kita dedikasikan ini akan mendapat ridho Allah Swt, amin ya robbalalamin.

Sholawat dan salam kita persembahkan untuk junjungan alam, Rasulullah Saw atas kegigihan dan keuletan serta kesabarannya menyampaikan risalah Allah kepada umatnya, telah mengantarkan kita ke gerbang panduan akidah yang benar. Jika kita berpegang teguh dengannya, insyaallah akan menyelamatkan kita dari kesasatan. Kata Nabi, "Telah kami tinggalkan dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat selamanya."

Kaum muslimin, hamba Allah yang mulia.
Judul khutbah kita pada pagi ini, ‘Memantapkan Hubungan dengan Allah dan Sesama Manusia Itulah Buah Takwa’. 

Saat ini kita tengah merayakan Idul Fitri. Merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh menjalani ujian pengendalian nafsu. Selama satu bulan, kita berpuasa, tidak sekadar puasa dari makan, minum, merokok, dan lain-lainnya tetapi kita juga berpuasa dari berbicara, mendengar, melihat bahkan berpikir kepada segala sesuatu yang dilarang Allah. Hari-hari satu bulan yang lalu, itu alhamdulillah telah kita lewati dengan memperbanyak amal-ibadah kepada-Nya.

Selama satu bulan kita berjuang lahir dan batin. Teriknya mata hari yang membuat lapar dan dahaga di siang hari, beratnya kerja yang menjadikan badan kehabisan tenaga, tidak menyebabkan kita silau dan khilaf untuk membatalkan puasa. Begitu pula di waktu malam, badan letih tidak menggoyahkan iman dan kesungguhan kita untuk memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah. Tarwih, witir, tadarus alquran serta ibadah lainnya kita tunaikan demi mendapatkan  keridhoan Allah Swt. Itulah bukti kita mematuhi perintah-Nya; athii’ullaha wa athii’urrasul, patuh kepada Allah dan patuh juga kepada Rasul-Nya.

Memang berat. Namun dengan kesungguhan dan kesadaran bahwa hidup di dunia yang bagaimanapun menyenangkan, toh akan berakhir dengan kematian: pertanda akan bermulanya hidup abadi dengan pertanggungjawaban penuh atas apa yang kita lakukan di dunia ini. Kita sadar betul bahwa apapun yang kita perbuat di dunia, kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sekecil apapun perbuatan, baik atau buruk, itu akan kita pertanggungjawabkan. Kepada kita akan diperlihatkan apa yang telah kita lakukan. Faman ya’mal mitsqoolazarrotin khairon yaroh, waman ya’mal mitsqoolazarrotin syarraan yaroh. 

Allahu akbar ..3 x
Sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Kehadiran Idul Fitri dan hari-hari selanjutnya, adalah kesempatan kita membuktikan kokohnya hubungan kita dengan Allah (hablumminalloh) dan kian kuat pula hubungan sesama kita, manusia (hablumminannas). Dua hubungan, vertikal dan horizontal haruslah menjadi dasar langkah kita meninggalkan Ramadhan, menyambut Syawal dan bulan-bulan seterusnya.

Harmonisasi hubungan dengan Allah di satu sisi, serta harmonisnya hubungan sesama manusia di sisi lain adalah jaminan akan terwujudnya harmonisasi kehidupan manusia baik dalam bahtera kehidupan duniawi terlebih lagi dalam usaha mempersiapkan kehidupan ukhrawi yang abadi. Itulah buah takwa yang menjadi harapan kita. Tanpa hubungan baik itu betapa akan sulitnya kita menjalani hidup kita. Malah jika hubungan ini tidak mampu kita jaga malapetaka akan senantiasa menghadang kita. Firman Allah, "Dhuribat alaihimuzzillatu aina ma tsuqifu illa bihablin mina llahi wahablin minannas."
Artinya: Akan ditimpakan ke atas mereka kehinaan (seperti kesusahan, kesukaran, gangguan dll) kecuali jika mereka tetap berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan begitu pula memperkokoh hubungan sesama manusia.

Hadirin, sidang jamaah Idul Fitri rahimakumullah,
Hubungan dengan Allah berarti secara keseluruhan setiap gerak-langkah serta tindak-tanduk kita tak boleh terlepas dari kendali aturan Allah. Tidak hanya tatkala sholat, berpuasa, haji, tadarus atau tahajjuj, bahkan saat minum, tidur, bekerja, berolahraga, dll, kita harus tetap menjaga hubungan dengan Allah. Itu semua harus selalu berada dalam koridor hablumminallah, karena itulah bukti takwa sesungguhnya.

Sebagai petani, misalnya jadilah petani yang yang diredhoi Allah, yaitu petani yang berharap hasil dari apa yang ditanam. Bukan petani yang diam-diam memindahkan sempadan tanah atau diam-diam memetik buah tanaman orang lain. Sebagai nelayan, jadilah nelayan yang diredhoi Allah, yang hanya mengambil dan memanfaatkan hasil dari tangkapannya. Sebagai pedagang, hendaklah berdagang dengan baik dan jujur. Pedagang yang memperoleh keuntungan untuk dirinya tanpa menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Begitu pulalah profesi lainnya, sebagai aparatur pemerintah, pegawai negeri, pengusaha, misalnya. Apapun aktifitas-muamalah kita ingatlah senantiasa kepada Allah. Bayangkanlah selalu bahwa Allah senantiasa ada bersama kita. Itulah bukti terpeliharanya hubungan dengan Allah supaya kita tidak melakukan kecurangan dan kezoliman dalam bekerja. Kata Nabi, "Bahwa engkau menyembah Allah (beraktifitas) hendaklah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, (yakinlah) sesungguhnya Allah melihatmu."

Dengan mengingat dan mengikuti aturan Allah berarti kita telah menjadi orang beriman dan senantiasa menjalin hubungan serta berpegang teguh dengan ketentuan Allah. Itulah orang beriman yang hatinya akan tenang bilamana mengingat Allah karena sesungguhnya itulah buah takwa yang kita perjuangkan selama Ramadhan. Firman Allah dalam surat Ar-Ra’du yang artinya, "Orang-orang beriman, akan senantiasa tentram hatinya bila mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hatimu akan tenang dan tentram."

Allahu akbar 3x, walillahilhamd.
Hadirin, kaum muslimin rahimakumullah,
Hubungan kedua yang wajib kita bangun dan mantapkan adalah hubungan sesama manusia, hablumminannas. Yang pertama adalah hubungan antara seorang anak dengan kedua orang tuanya dan sebaliknya, atau dalam keluarganya. Selanjutnya hubungan sesama manusia lainnya.

Dalam surah Al-Isra’ ayat 23 Allah berfirman yang artinya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Sebagai makhluk sosial kita tidak akan mampu berdiri sendiri. Setinggi apapun pangkat dan jabatan, tidak ada gunanya tanpa kurir. Jenderal tidak bermanfaat tanpa prajurit. Kepla Kantor, Kepala Sekolah atau kepala pejabat apapun, tidak akan ada jika tidak ada murid atau bawahannya. Yang kaya ada karena ada yang miskin. Begitulah keterkaitan manusia satu dengan lainnya. Maha adil Allah dengan ciptaann-Nya. Tapi Allah menegaskan bahwa hubungan dengan kedua orang tua adalah kunci dari segalanya. Bahkan ditegaskan oleh Nabi, bahwa ridho Allah akan diukur dan ditentukan oleh ridho orang tuanya. Jadi, hubungan dengan orang tualah yang didahulukan bersamaan hubungan sesama manusia lainnya.

Ingatlah, tidak mungkin kita mampu mambalas jasa dan pengorbanan kedua orang kita. Sedari kecil hingga dewasa, betapa kehidupan kita sangat ditentukan oleh orang tua kita. Bahkan seorang ibu, sedari dalam kandungan sudah merasakan betapa derita merawat, memelihara dan membesarkan anak-anaknya. Itu tidak akan pernah mampu terbalas oleh kita dengan apapun. Hanya hormat dan berbuat baiklah yang yang akan menentukan hubungan kita akan terus harmonis dengan orang tua kita.

Hadirin,
Lalu hubungan sesama manusia lainnya menjadi dasar pula untuk harmonisasi hubungan dengan Allah. Itulah sebabnya dengan tegas Allah mengingatkan bahwa kita akan senantiasa dalam liputan kesulitan bilamana tidak menjaga dan memperkokoh hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali-Imran ayat 112 itu tadi. Apa saja yang akan kita lakukan tidak dapat dan tidak mungkin kita menapikan orang lain. Karenanya, hubungan sesama manusia wajib tetap dijaga dan dipelihara sepanjang hayat kita. Baik di rumah tangga dan keluarga, bermasyarakat dan berbangsa, kita tidak ingin Allah mencela kita dengan bermacam musibah menimpa, hanya karena tidak terjaga dan terpeliharanya hubungan harmonis sesama manusia.

Allahu akbar 3x, walillahilhamd.
Kaum muslimin, jamaah Idul Fitri rahimakumullah,
Lalu bagaimana kita menjaga hubungan baik kita sesama manusia? Ada beberapa langkah strategi yang mesti kita lakukan, 

1. Pemaaf; memberi maaf kepada seseorang, baik sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan kesalahan kepada kita merupakan langkah awal terciptanya rasa damai dan tenteram di antara kita. Segala bentuk perselisihan permusuhan dan kekhilapan akan berakhir dengan kedamaian jika kita mampu saling memaafkan. Melupakan segala bentuk dendam dengan memulai lembaran baru yang harmonis adalah peringkat paling tinggi dan mulia di antara orang-orang pemaaf. Firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 199, khudzil ‘afwa wakmur bilma’ruf waa’ridh ‘aniljaahilin. Artinya, 'Jadilah engkau orang-orang yang suka memberi maaf; dan ingatkanlah orang untuk berbuat baik serta menghindar dirilah dari orang-orang bodoh.' Sementara pada ayat lain surah Asy-Syuura Allah mengatakan, faman ‘aafa waashlaha faajruhu Alallah. Barangsiapa yang suka memberi maaf maka Allah menjanjikan pahala untuknya.

2. Rendah Hati; dengan sifat rendah hati orang akan terhindar dari sifat sombong dan angkuh. Firman Allah dalam surah Al-Furqan ayat 63, Wa'ibaadurrahmanillaziinyamsyuuna alal ardhi haunan waiza khathobahumul jaahiluuna qaaluu salaaman. Maksudnya, 'Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati, tidak angkuh; dan apabila orang jahil menyapa atau bersikap tidak sopan terhadap mereka maka mereka menjawab dengan jawaban yang dapat menimbulkan kedamaian.'

Jadi, sifat rendah hati akan membuat orang senang dan damai dengan kita. Sebaliknya sifat tinggi hati dan sombong akan membuat orang menjauh dari kita.

3. Bersyukur; bersyukur berarti senantiasa mengingat dan memperhatikan apa saja yang diperoleh dan menerimanya dengan ikhlas. Bersyukur atas segala sesuatu yang kita peroleh bermakna pula kita harus menyadari dari mana sesuatu itu diperoleh. Di situlah kita akan dituntut untuk tetap menjaga hubungan dengan si pemberi yaitu Allah Khaliqul Rahman. Dalam salah satu hadis, nabi mengingatkan kita, 'Barangsiapa yang tidak menyadari bahwa Allah memiliki anugerah kepadanya selain makan dan minum maka ia telah membatasi usahanya dan akan mempercepat jatuhnya malapetaka kepadanya.'

Kita harus membuktikan bahwa rasa syukur kita tidak sekadar ikhlas menerima anugerah Allah, tapi juga ikhlas dan sabar bilamana rizki yang diberikan Allah akan kita sampaikan di jalan Allah. Jika kita melihat orang-orang miskin dan anak yatim membutuhkan kita, segeralah kita ulurkan tangan kita untuk mereka. Itulah wujud syukur yang dikehendaki Allah. 

Hadirin, sidang idul fitri yang dirahmati Allah,
Demikianlah sedikit tausiah kita pada pagi Idul Fitri ini. Sekali lagi, mari kita sadarilah bahwa hubungan yang kokoh dengan Allah dan dengan manusia itulah buah takwa yang selama satu bulan kita perjuangkan. Untuk itu hendaklah kita pahami betapa mutlaknya hubungan ini kita jaga dan kita perkokoh dari waktu ke waktu. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjaga hubungan ini, amin. Billahi taufiq walhidayah, Wasalamu’alaikum ww.

Wonosari, 10 April 2024

* Dibawakan untuk khutbah Idul Fitri 1445/ 2024
di Masjid Baitussalam, Pamak, Tebing

12 Mar 2024

Biasa, Hari Pertama Jamaah Saling Berlomba

Biasa, Hari Pertama Jamaah Saling Berlomba


TIDAK salah jika di awal-awal Ramadan para jamaah berbondng-bondong meramaikan masjid atau musalla. Di Masjid Al-Ubudiyah, misalnya, masjid di tempat saya ini tampak lebih semarak malam ini. Saya percaya, hakkul yakin di masjid-masjid lain pun begini ramainya. Inilah malam pertama tarwih dilaksanakan untuk Ramadan 1445 (2024). 

Bagi kelompok atau organisasi keagamaan Muhammadiyah, Ahad (10/03/2024) malam adalah hari pertama tarwihnya. Ini sesuai keputusan PP Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadan 2024 jatuh pada hari Senin (11/03/2024).Bagi umat lainnya, yang mengikuti Pemerintah yang menetapkan awal Ramadan satu hari sesudahnya maka Senin malamlah berbondong-bondong ke masjid. Seperti di masjid kampung saya ini.

Bahwa jamaah meramaikan masjid, ya, karena ingin mendapatkan berkah dan pahala di bulan mulia. Mungkin juga dengan motivasi lainnya. Masyarakat datang dengan pakaian rapi dan menggunakan pakaian baru, ya karena masyarakat ingin menunjukkan bahwa rasa gembira menyambut Ramadan bisa dalam bentuk berbagai macam. Termasuk memakai pakaian serba baru dan wewangian, mungkin. Bahkan jika dalam hatinya ada rasa ingin berkompetisi (berlomba) dalam kebaikan beragama, ya itu juga tidak masalah. Niat juga yang menentukan motivasi kita.

Bahwa di awal-awal Ramadan masyarakat seolah-olah berlomba-lomba datang ke masjid atau musolla, berlomba-lomba juga dalam bersedekah atau memberi makan orang-orang yang membutuhkannya, itu semua tidak ada masalahnya. Allah justeru menyuruh hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi ingat, jangan berlomba-lomba untuk keburukan dan permusuhan. Itu sejalan disampaikan Allah.

Oleh karena itu, jika masyarakat betul-betul ingin berlomba dalam niat berbuat baik selama Ramadan mulia ini, alhamdulillah saja. Tidak harus khawatir akan dipandang riya atau berlebih-lebihan. Sekali lagi, akhirnya memang niat ikhlas dan niat baik jamaah jualah yang menentukan nilainya di sisi Allah.***